dunia terbuka lebar

Salah satu hal yang aku pelajari dari kontennya Gary Vee,

Di masa seperti sekarang di mana:

  • hampir semua hal bisa dipelajari dari internet, banyak tutorial, tips, trik, dll
  • adanya ekosistem (grup, komunitas, forum) di internet untuk diskusi
  • terbukanya kontak dengan orang lain di sebuah bidang lewat sosial media
  • berkurangnya keharusan untuk melewati ‘middle-man’ dahulu sebelum langsung ke pasar (contohnya komik sekarang bisa langsung upload ke webtoon kanvas, proyek yang belum punya dana bisa ke kickstarter, mau buka toko sudah banyak platform e-commerce seperti tokopedia, bukalapak, dll)
  • tersedia nya orang yang lebih ahli di sebuah bidang yang kita geluti untuk dikontak, serta tersedia course-course yang bisa dibeli oleh orang-orang yang sudah berpengalaman
  • banyaknya tools / software yang memudahkan orang belajar dan berkarya, dan saya yakin akan makin banyak karena software, otomasi, dan A.I. akan makin maju

Kita hidup di era yang benar-benar semua termudahkan dan ada jalannya. Semuanya benar-benar tentang kita mau atau tidak. Dari kita tinggal hanya:

  • Peka terhadap diri sendiri, apa yang kita mau, dan apa yang membuat kita tertarik. Apa value yang bisa kita berikan, apa yang paling ahli kita lakukan, apa yang paling suka kita lakukan, apa yang terus-terusan memanggil kita. Menemukannya kadang melalui banyak proses dan refleksi terhadap hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan, namun kadang ada pola di sana. Jangan takut mencoba banyak hal, coba apa yang sedang kita ingin coba, sampai menemukan hal spesifik apa yang kita suka. Ini lebih dari sekedar ‘passion’ dan tidak terikat dengan profesi, perlu dicatat. Contohnya dalam ngomik, saya kenal beberapa orang yang sama-sama ngomik tapi ketertarikannya berbeda. Ada temen saya yang suka di bagian mengumpulkan ide-ide nyentrik dan menceritakan pengalaman hidupnya melalui komik, ada yang suka di bagian pacing dan storytelling dan mainin emosi pembaca, ada yang suka di aesthetic gambar dan komposisi. Kalau saya suka sendiri suka di mentokin sebuah konsep, misal ada konsep komik A, saya kadang tiba-tiba kepikiran referensi apa yang mirip, judul yang cocok, dialog apa yang kena, dll. Nemu hal ini kadang lama, dan ketika nemu hal ini, sebenernya ini nggak melulu berhubungan dengan keprofesian, bahkan lebih dari itu. Contohnya ketertarikan saya itu juga keluar waktu ngoding, aplikasi H2H kemarin kakak saya saran game nya berbentuk kartu, saya langsung kepikiran logo nya berbentuk kartu yang ditumpuk jadi logo hati, dengan nama Heart2Heart dan angka 2 nya membentuk hati. Kepikiran juga tagline nya ‘dari tanya turun ke hati’ dan sebagainya. Jadi ini lebih dari profesi, keahlian dan kecenderungan yang lebih fundamental. Peka terhadap hal ini sangat membantu menemukan keahlian kita.
  • Tidak tertutup dengan zaman, karena kemajuan zaman ada untuk membantumu berkarya. Misal ada platform baru seperti tiktok, atau ada budaya baru yang ada namun kita belum relate, justru itu menunjukkan permintaan orang-orang banyak dan ketertarikan mereka di sana. Dengan belajar bahasa & budaya mereka, kita bisa ikut berhubungan dan memberi value kita, entah itu produk atau edukasi atau hiburan atau apapun. Begitu juga dengan A.I., adanya A.I. dan teknologi juga harusnya memudahkan kita untuk melakukan suatu hal, jangan terjebak dengan pemikiran A.I. malah mengurangi value manusia, justru terbantu dengan teknologi manusia bisa fokus ke hal-hal yang lebih esensial. Begitu pula dengan keberadaan orang yang lebih ahli, jangan membuat itu mempressuremu, seharusnya kita lebih mudah belajar dari mereka, berhubungan dengan mereka, dan bahkan nantinya berkolaborasi. Fokus saja dengan apa yang kamu bisa dan apa yang ingin kamu lakukan, jangan dengan prestasi dirimu sendiri maupun orang lain.
  • Menciptakan frameworkmu sendiri. Mindset dan cara pandang orang berbeda-beda. Cara kerjanya juga, mulai kebiasaan, proses, alat, dan lain-lain. Jadi harus nemukan apa yang works untuk kita sendiri, dapur kita sendiri. Temukan titik damai di mana kita bisa secara maksimal mengeluarkan potensi kita.

Intinya adalah sadar dengan potensi diri sendiri untuk memaksimalkannya, kemudian berusaha mengembangkannya. Sangat penting untuk sadar potensi yang bisa kita lakukan, karena dunia sudah terbuka lebar.

Kemudian terus lakukan prosesnya dengan cara kita sendiri sehingga kita bisa ikhlas dan suka dengan proses itu.

2 kali berturut-turut sakit, yang pertama maag, harus istirahat +- seminggu, sekarang pilek parah + sakit gigi, hehe …

Mungkin udah saat nya aku mendengarkan tubuhku sendiri. Bisa dibilang tubuh adalah pilar pertama dalam hidup, kesehatan adalah pertahanan pertama untuk bisa melawan apapun,

Ketika nggak sehat, semuanya kacau. Semuanya bergantung sama kesehatan.

Anyway hi. Maaf baru update blog ini. Just like before, lot of things happened. Kuharap bisa agak aktif di sini lagi.

saya benci ‘kerja keras’

Aku nggak tahu kenapa, nasihat yang paling nggak suka aku dengarkan itu nasihat tentang kerja keras. Contohnya kayak:

‘kamu harus kerja keras kalau mau sukses’,
‘kamu harus mau ngelakukan hal yang nggak kamu suka kalau mau maju’,
‘kamu gini aja ga bisa, mau jadi apa?’,
‘kamu kalau gini aja nggak kuat, nanti waktu udah lebih tua gimana?’,
‘kalau sekarang nggak mau kerja keras, masa depanmu bakal sengsara’,
‘dunia ini bergerak cepat, kalau kamu nggak kerja keras kamu nggak akan bisa ngejar’,
dan sebagainya yang senada dengan itu.

Lanjutkan membaca “saya benci ‘kerja keras’”

ketika aku kesulitan untuk melepasnya, aku harus ingat,

bahwa yang kurindukan bukan dia,

melainkan memoriku akannya.

karena ia saat ini berbeda dengan ia saat dulu,

karena ia saat ini tidak lagi merindukanku,

aku hanya jatuh cinta pada ingatanku sendiri.

yang sebenarnya tak lagi ada

Gini aja udah stes. Apalagi nanti waktu kuliah. Ilusi Potensi. Penyakitnya anak muda. Terlalu banyak bermimpi. Aku harus memaafkan diriku sendiri bila aku tak jadi apa-apa.

Jadi hamba Allah yang sederhana.

Dengan begitu bisa kudapat ketenangan.

Bagilah yang jadi tanggungjawabmu dan yang jadi impianmu. Kerjakan dulu tanggungjawabmu. Dapatkanlah momentum. Itu akan membentuk dirimu.

Kemudian syukurilah semua itu. Pelan-pelan.

Journaling membuat saya peka terhadap masalah, dan kepribadian yang saya punya. Mulai dari trauma, passion, kecenderungan, kepribadian, semuanya ada hubungannya dengan saya waktu kecil. Bahkan mungkin Freud benar, persepsi awal saya dengan Tuhan dibentuk oleh interaksi Ayah dan Ibu waktu saya kecil. Persepsi tentang otoritas juga dari Ayah. Kesenangan saya terhadap komik dan fiksi karena dari kecil nonton Power Ranger + baca komik sama kakak, keinginan saya untuk bisa ahli di banyak bidang diawali dengan persepsi akan value yang saya punya ketika SD, ketika nilai saya relatif bagus di semua pelajaran. Kecenderungan terhadap kesukaan dengan komputer juga sudah ada waktu kecil, pernah ikut lomba matematika dan komputer saat sd, padahal di rumah tidak ada komputer. Dan saya lihat polanya sih teman-teman saya yang dulu main Yu Gi Oh sekarang kuliah di Informatika xD (rasanya mirip pas main yugi / bikin deck sama ngoding)

Anyway, ini sebuah clue untuk mencari tahu dirimu sendiri, semuanya ada di dalam dirimu sendiri.