(2015)

“Einstein berkata – waktu itu relatif. Satu detik bagi tiap orang bisa terasa berbeda.

Mungkin itu benar,
karena saat ini, rasanya semuanya diam, membeku.

Hanya ia yang bergerak dalam satuan ruang-waktu, ia yang sedang duduk di bangku pojok. Menulis sesuatu di bukunya, mungkin tentang materi kelas.
Kadang ia berbicara dengan teman sebangkunya, lalu tersenyum, dan tertawa. Damai rasanya – melihat ia tersenyum tulus seperti itu.

Saat itu, aku ingin waktu berpihak padaku,

berhenti untuk sesaat agar aku bisa menikmati senyumannya.

Aku ingin ruang membantuku, membuatku dekat dengannya.

Tapi itu semua tidak mungkin.
Ia tak akan pernah memperhatikanku. Tanganku tak akan pernah sampai untuk menyentuhnya. Sedetikpun ia tak akan melihatku. Mungkin ia bahkan tak tahu keberadaanku. Hubungan ini – menyenangkan, sekaligus menyakitkan. Mencintai, tapi tak bisa memiliki.

Sedekat apapun kami, tetap seperti 2 garis lurus paralel yang sangat dekat, tapi tak pernah bersentuhan. Sangat dekat, tapi tak pernah bertemu.

Tapi
aku menyukai ini
ini lebih dari cukup.
Aku puas hanya karena senyumanmu. Terimakasih telah ada di sana.

Tak peduli lagi jarak dan waktu.

Cinta ada. ”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s