Bahkan menggenggamnya erat saja aku tidak mampu. Awalnya ia hadir begitu kuat
dan meyakinkan, tak ada keraguan sedikitpun aku padanya, hingga kusadari saat ini ia yang pernah hadir telah menghilang entah kemana: sebuah janji.

Aku tidak bisa menggenggamnya.

Aku lemah. Aku hina. Aku tidak pantas.

Tekad yang awalnya membara itu, kini tak lagi terlihat bara apinya, entah angin
apa yang meniupnya. Teriakan mulutku yang diikuti otot-otot leher yang menegang
dan adrenalin yang memuncak, kini lemas dan menciut seakan-akan tak pernah ada.
Ia meninggalkanku sendirian dengan segala rasa bersalahku. Apa yang terjadi …
mengapa aku selemah ini?

Aku kecewa.

Sama seperti mereka yang kukecewakan karena janji itu.

Mengapa aku berkata akan sesuatu yang belum tentu akan kutepati?
Mengapa aku bisa percaya akan diriku sendiri, meski kutahu diriku ini bukan
apa-apa?
Apa saat itu iblis atau malaikat yang berbisik?

Atau mungkin itu hatiku yang ingin menghibur kelemahanku sendiri?

Aku tidak tahu, aku tidak tahu lagi.

Yang kutahu aku hanya sendirian di sini. Meninggalkan mereka dalam sedih.
Bersama dengan diriku seorang, juga dalam sedih.

Yang ku tahu, aku belum pantas.

Aku tidak akan pernah percaya lagi.

Aku tidak akan berjanji lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s