Bumi Roman (#prompt 12 – radio)

bumi roman

“… menulis sebuah buku yang berjudul ‘Bumi Manusia 2017’. Judul itu terinspirasi dari novel Indonesia favoritnya yang ditulis oleh Pramudya Ananta Toer. Dan kini saya sudah bersama Ryan Riddleson, penulis bestseller buku ‘Bumi Manusia 2017’ yang membahas …”

Selain bising mesin dan suara getaran mobil akibat jalan yang tidak rata, suara wawancara di radio itu menemani perjalanan jauh mereka berdua.

Jalanan sepi dan gelap, udara dingin malam itu membuatnya tidak menyalakan penyejuk udara. Bocah laki-laki di sampingnya tetap diam, melamun ke luar jendela, entah memikirkan apa.

Writing prompt merupakan sebuah  kata kunci yang bisa memicu untuk memulai sebuah tulisan.  Di sini saya akan menulis secara refleks,  dengan kata kunci ‘radio’. 

List dan info tentang writing prompt : klik

Semua post writing prompt saya setelah ini akan saya letakkan di blog baru saya:
4ksara.wordpress.com

“… terima kasih, Umar,” kata narasumber di radio.

“Bisa ceritakan sedikit tentang buku ini?” jawab pewawancara.

“Awalnya saya tertegun oleh kalimat Pramudya di novel Bumi Manusia-nya, yang kurang lebih berbunyi ‘semua kisah yang di tulis di bumi, tentang apapun itu, entah tentang raksasa, mesin, robot, binatang, apapun, sebenarnya kisah itu adalah kisah tentang manusia’. Saya lupa spesifiknya, tapi kurang lebih begitu. Dan juga …”

“Apa kau ingin bilang sesuatu?” tanya orang tua yang sedang menyetir mobil.

“Tidak,” jawab bocah itu.

“Perjalanan ini masih lama. Aku takut kau mati kebosanan.”

“Kenapa selalu begini?”

“Maksudmu?”

“Aku mau rumah.”

“Ya, kita akan mendapatkannya setelah sampai nanti.”

“Apa ayah mengerti arti dari rumah? Rumah itu tempat untuk pulang, Yah. Aku mau pulang. Kenapa selalu begini?”

Lelaki tua itu menghelakan nafas panjang. “Sudah kukatakan padamu, ceritanya sangat panjang.”

“Oh ya? Coba tebak. Perjalanan ini masih lama. Dan aku takut mati kebosanan. Atau mati penasaran karena tidak tahu cerita panjang apa yang membuat kita harus terus pindah-pindah rumah.”

Lalu Ayah mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya. Menghisapnya lama, lalu meniupnya perlahan ke luar jendela.

Ia diam, membiarkan suara radio terdengar lagi.

“… mulai dari sejarah manusia purba sampai manusia metropolitan seperti sekarang, ada sesuatu yang tidak berubah dari manusia. Yang membuat tiap manusia di tempat dan kurun waktu yang berbeda bisa saling mengerti. Kemudian juga …”

“Aku berhak tahu, Yah.”

Nafas panjang beserta asap rokok keluar dari hidung Ayah. “Baiklah. Kurasa kau harus tahu.”

Bocah itu menoleh ke arah ayahnya.

Lalu ayahnya berkata, “Aku berbohong padamu sebelumnya, ini bukan urusan pekerjaan. Sebenarnya … ayah adalah buronan polisi. Ayah dan 2 teman ayah, Yohan dan Seno, pernah melakukan pencurian berencana. Karena itu ayah harus terus berpindah-pindah tempat agar polisi tidak menemukan ayah. Ayah tahu, itu menyulitkan. Tapi ini yang harus dilakukan.”

Dengan mulut sedikit ternganga, bocah itu mencoba mencerna cerita dari sang Ayah.

“Wow. Aku tidak pernah menyangka itu.”

“Karena itu juga Ibumu minta cerai. Tapi sekarang Ayah sudah tidak mencuri lagi. Dan kami bertiga tidak pernah bertemu lagi. Masing-masing dair kami mencoba memulai hidup baru. Meski susah, Ayah rasa ini adalah harga yang harus dibayar.”

“Apa ayah pernah melukai orang?”

“Iya. Beberapa. Ayah menghajar mereka sampai mereka pingsan. Ayah juga pernah menembak orang. Tapi tidak akan ayah lakukan lagi. Ayah menyesal. Itu semua sudah usai.”

Karena kejujuran ayahnya, Bocah itu perlahan menaruh rasa simpati terhadap ayahnya. Ia jadi tahu manusia seperti apa ayahnya, dan penyesalannya selama ini. Sejenak ia bisa memaafkan kondisinya yang harus terus berpindah-pindah rumah.

Lalu mobil itu berhenti di sebuah parkiran minimarket.

“Ayah mau beli rokok dulu. Titip sesuatu?”

“Nggak …”

Lalu ayah keluar dari mobilnya. Sekarang bocah itu sendirian, ditemani suara radio.

“… Berapa lama waktu yang anda habiskan dalam menulis buku ini?” tanya Umar, pembawa acara radio itu.

“Sekitar 12 tahun,” jawab Ryan Riddleson.

“Wah, lama sekali! Apa yang membuatmu sangat tertarik dengan Bumi Manusia ini?”

“Banyak, banyak sekali. Kurasa manusia adalah makhluk yang sangat sederhana, tapi juga sangat kompleks di saat yang bersamaan. Manusia adalah makhluk hidup ajaib yang memiliki banyak keunikan di dalam dirinya.

Ia merasakan ’emosi’ yang spektrumnya sangat kompleks. Kadang ingin membantu orang lain, kadang egois, kadang sedih karena hal-hal sepele, kadang bahkan mereka tidak bisa menjelaskan perasaannya.

Maksudku, banyak sekali jenis dari manusia. Dari zaman purba sampai sekarang. Dan mereka hidup di ‘bumi’-nya masing-masing. Dunia, pandangan, dan kehidupannya masing-masing ….”

Lalu terdengar suara-suara dari dalam mini market. Karena penasaran, bocah itu membuka jendela untuk memastikannya.

“SENO, CUKUP!”

“LEPASKAN!”

Teriakkan itu diikuti dengan suara dentuman pistol yang sangat keras.

Lalu keluar seorang laki-laki dari pintu minimarket, berlari membawa pistol dan sekantung uang. Ia berlari menuju sebuah mobil, lalu kabur menggunakannya.

Khawatir dengan apa yang terjadi, bocah itu langsung berlari menuju minimarket.

Dan ia melihat seorang kasir berlutut di samping ayahnya di sana, tergeletak di bawah lantai dengan perut berdarah.

“Halo, ambulans? Teman saya ditembak! Tolong segera kirim ambulans!” teriak kasir minimarket kepada telepon genggamnya. “Roman, Roman! Bertahanlah!”

Roman, lelaki tua itu tersenyum, dan berkata, “tidak kukira barusan kita reuni di sini. Kau sehat rupanya, Yohan?”

“Jangan bilang apa-apa lagi, sebentar lagi ambulans datang!”

Lalu bocah itu berlari menuju ayahnya. “AYAH!”

Roman tersenyum. Sambil terbata-bata, ia berkata, “Yohan, ini anakku, Rio. Uhuk! Uhuk!” Roman batuh sampai mengeluarkan darah.

“Ayah! Jangan banyak bicara lagi!” pinta bocah itu.

“Mungkin ini … harga terakhir yang harus Ayah bayar … Rio, maafkan Ayah kalau tidak pernah ada untukmu. Maafkan Ayah karena kita harus terus berpindah-pindah, sehingga kau kesusahan mencari teman di sekolah. Maafkan ayah karena kau tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Maafkan ayah karena kau tidak pernah merasa pulang.”

Rio menangis, bingung entah harus menjawab apa.

Dan belum sempat menjawabnya, Roman sudah meniupkan nafas terakhirnya.
Meninggalkan seorang anak berumur 15 tahun yang entah harus pergi, atau pulang ke mana. Karena satu-satunya tempat untuk pulang telah pergi darinya.

Minimarket itu jadi sangat hening. Hanya suara pendingin ruangan, isak tangis mereka, dan suara radio dari mobil Roman yang sayup-sayup terdengar.

“… terima kasih telah mendengarkan wawancara tentang ‘Bumi Manusia’ bersama Ryan Riddleson. Tiap manusia memiliki kisah yang unik, hidup yang ajaib, dan hanya dialami manusia itu sendiri. Tiap manusia memiliki hidupnya sendiri. Dunia-nya sendiri. ‘Bumi’-nya sendiri. Selamat malam.”

 

 

(8 Juni 2017 – “Bumi Roman”)

 

Note from Author:

Udah jarang nulis rutin lagi, barusan lagi-lagi kebetulan ingin nulis. By the way saya merubah peraturan writing prompt yang harusnya maksimal 15 menit, menjadi minimal 15 menit. Karena kadang kita sangat suka dengan cerita yang sedang kita tulis, dan 15 menit tidak cukup untuk mengungkapkan semua kata-kata.

982 kata, ini ditulis 45 menit-an. Suka banget dengan cerpen yang ini, meski mungkin banyak kurangnya. Tapi entah kenapa akhirnya bisa jadi seperti ini. 🙂

Kurasa bumi kita ajaib. ‘Bumi Affan Abiyyu’ benar-benar ajaib.

(terima kasih untuk Pramoedya Ananta Toer)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s