tulisan random lagi, maaf

1
Sadari bahwa otak ini bekerja jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Meski kita berbicara menggunakan sebuah bahasa verbal, otak tidak bekerja seperti itu. Ia menghubungkan banyak informasi dengan mengasosiasikannya satu sama lain dengan sangat cepat, tanpa adanya pagar yang bernama ‘bahasa’.

Dan kadang, otakku bergerak jauh, jauh lebih cepat dari yang ingin aku tuliskan. Jadi kadang tulisanku sangat tidak teratur, karena, otak.

Mungkin bukan alasan yang terdengar bagus.

2
Sadari juga, bahwa otak ini tidak sesederhana itu.
Banyak yang ia punya selain asosiasi, pikiran jangka pendek, respon ‘flight or fight’ untuk sebuah stimlus langsung, alam bawah sadar, dan lain-lain yang mungkin tidak kuketahui karena sebenarnya aku tidak begitu mengerti tentang neurosains.

Dan kali ini tanganku mencoba mengetik secepat-cepatnya, hendak menyamai pemikiran otak yang kecepatannya mungkin secepat elektron bergerak.

Meski ku tahu itu tak mungkin.

Aku hanya akan terus melakukannya.

3
Dan diantara semua fakta yang ilmuwan temukan tentang otak kita yang mahakompleks ini, ada sebuah tabir misteri yang belum kita ketahui. Sesuatu ini. Bukan objek. Ia tidak bermassa. Bahkan kita tidak tahu benar apa itu.

Bahkan ada yang meragukan eksistensinya.

Dia, entitas ini, sesuatu yang ada dalam diri kita, kadang berkata dan berbisik sesuatu. Kadang logis, kadang irasional.

Entitas ini sangat agung, bahkan katanya, ia ikut memengaruhi secara langsung bagaimana semesta ini bekerja, melalui bidang yang kita sebut fisika kuantum, yang benar-salah dan detailnya masih kita cari tahu. Dan di bidang itu, banyak sekali variabel yang tidak bisa dengan mudah manusia ukur. Mungkinkah manusia memecahkan teka-teki entitas ini?

Entitas itu bernama kesadaran.

4
Kesadaran.

Kesadaran ini dalam bahasa inggris berbunyi ‘conciousness,’ bukan ‘awareness,’ kuharap kamu ‘sadar’ akan perbedaannya.

Kesadaran ini ada asosiasinya dengan hal-hal seperti nyawa, kemauan, kemampuan untuk memilih, free-will.

Dan iya, keberadaannya masih dipertanyakan.
Banyak ilmuwan yang berkata bahwa ia tidak ada, free-will adalah sebuah ilusi, dan sebagainya.

Mereka percaya akan itu.

Dan ada mereka yang tidak percaya akan itu.

Percaya atau tidak, itu sebuah pilihan. Dan memilih salah satunya, bukankah itu membuktikan kesadaran itu ada?

Belum tentu, bisa saja itu adalah ilusi yang membuat kita merasa seakan-akan kita memilih untuk percaya.

So … it’s really a dead end, right? Pertanyaan ini adalah sebuah paradoks, terus berputar-putar tanpa adanya kebenaran yang pasti. Karena kedua jawaban tidak memiliki landasan.

Dan terus berputar.

(sampai kita memilihnya)

(entah apa itu ‘makna’ nya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s