Ini adalah kisah seorang laki-laki.
Seorang manusia diantara triliunan manusia lainnya.
Tak ada yang istimewa.
Ia seperti manusia lainnya.

Ia ingin dimengerti.

Ia berjalan, sendirian diantara manusia-manusia lainnya.
Di tengah dinginnya malam.
Bibirnya diam,
tapi tidak dengan pikirannya.
Apalagi hatinya.

Laki-laki itu sedang patah hati.

Ia sedang bertanya,
apa kau sedang memikirkannya.
Apa namanya pernah engkau pikirkan di malammu, seperti ia memikirkanmu di tiap malamnya.

Ia juga bertanya,
apakah engkau pernah bahagia.
Karena bersamamu, ia bahagia, setengah mati.
Ia ingin menggenggam erat momen itu, saat kalian bersama.
Apakah kau merasakan perasaan yang sama?
Apakah kau bahagia?

Dan ia temukan temui jawabannya.
Ya, engkau memikirkan.
Ya engkau bahagia.

Tapi bukan namanya yang ada di sana.
Bukan ia yang membuatmu bahagia.

Katakanlah, tiap engkau memandang matanya, itu tak ada artinya.
Ketika engkau tersenyum padanya, itu bukan senyum istimewa.
Ketika kau ingin mendengarkannya, itu hanya karena kau ingin menghiburnya.

Kau ingin ia bahagia.

Ia tahu itu. Ia paham itu.

Kau tidak ingin ia terluka. Kau tidak ingin ia merasa bersalah. Kau tidak ingin ia harus selalu larut dalam kesedihan.

Ia juga menginginkan sesuatu yang sama, untukmu.

Denganmu.

Ia sakit.

Ia bangun di waktu itu, berusaha terjaga, hanya untuk menjadi yang pertama mengucapkan.
Ia hadir ke sana, cuma ingin engkau lekas sembuh.

Ia mencintaimu.
Benar-benar mencintaimu.

Meski hanya itu yang ia bisa lakukan.
Tapi kita semua tahu, cinta saja tidak cukup.

Ya kan?

Apakah cinta tidak cukup?

Ia sakit.

Ia hanya ingin kau mengerti.

Kali ini saja, dengarkan meski ia tidak mengucapkan apa-apa.
Pandangilah, meski ia tidak terlihat.
Sentuhlah, meski kau tahu kalian terlampau jarak.

Rasakan.
Ia hanya ingin engkau merasakannya.

Cinta itu ada.
Cinta itu tulus, dan ia hanya ingin kau merasakannya.

Kau tak perlu menanyakannya, ia menyayangimu.

Tapi kau benar,

cinta saja tak cukup.

Cinta saja tidak ada artinya.
Cinta saja tidak bisa membuat kita bahagia.

Dan sekarang engkau bahagia.
Tanpa cintanya.

Ia hanya ingin berkata,

Wahai alam, dan semua mekanisme logismu yang kompleks.
Aku hanya ingin satu hal.

Kesadaranku ini hanya punya satu keinginan, dan aku yakin engkau mendengarkan.

Sampaikanlah cinta ini.

Entah kau memandangnya sebagai reaksi kimia yang memengaruhi hormon atau apapun,
Atau kau setuju denganku bahwa cinta ini perasaan yang lahir dari kesadaran dan memiliki peran besar di semesta,

atau apapun itu,

Aku ingin kau menyampaikannya.
Sampaikan padanya.
Buatlah ia paham.

Buatlah ia merasakanya.

Bahwa aku cinta.

Bahwa cintaku tidak ingin lagi menggenggam eratnya.
Cintaku melepaskannya.
Ia tidak pantas didera.
Ia pantas bahagia,
karena cinta seorang lainnya.

Cintaku cukup melepaskannya.
Karena kami tidak perlu bersama. Untuk saling mencinta.

~

Ini adalah kisah seorang laki-laki.
Yang mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi.
Yang berharap dirinya tercermin di seseorang yang ia kagumi.
Tapi ternyata bukan di sana keutuhannya ada.

Ia sudah berharap sesuatu pada alam.
Tapi wahai alam, izinkanlah ia berharap sekali lagi.
Ia harap, sekarang turun hujan.
Karena pipinya mulai basah,
dan ia tidak ingin orang lain melihatnya.

– 26/27 Maret, entahlah, ini dini hari.
Sebuah surat yang ia ingin engkau membacanya
Tapi ia tidak punya cukup keberanian.

Karena ia hanya bisa diam.

Dan berharap engkau mengerti.
Dan memaafkan keegoisannya.

Engkau berhak bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s