ia pernah membara

Kami terlampau jarak yang lama, dan waktu yang jauh.
Sudah lama cinta ini tidak menggebu-gebu.
Tapi masih ada percikan api di sana.

Ia tidak lagi membakar.
Ia tidak lagi membara.
Ia memercik … pelan.
Ia kecil, hampir tak terlihat, namun hati ini masih merasakannya.

Justru bukan api besar yang menyakitkan.
Percikan-percikan ini-lah yang menyiksa.
Membawa ragu dan pertanyaan: masihkah perlu dipertahankan?
Atau lebih tepatnya,
Bisakah dipertahankan?

Bisakah ia menjadi seperti dulu?
Aku takutΒ malah dingin yang akan menyelimuti,
mematikan percikan api yang tersisa,
meninggalkan hati membeku sendirian,

tak ada yang menghangatkan.

Aku tak tahu harus menyelesaikan tulisan ini seperti apa.

Aku tak bisa berbohong dan bilang, bahwa aku harus kuat.
Tapi aku juga menolak bahwa aku tidak bisa menyelamatkan yang tersisa.

Apa aku tidak bisa berbuat apa-apa?

Dan aku terus bertanya. Terus bertanya.
Tanpa kusadari kuhabisi beribu detik.

Aku ingin … percaya.

Aku ingin merasa.

Merasakan api itu.
Merasakan panasnya, meski hanya percikan.
Merasakan, dan ingat bahwa api itu pernah membara.

Aku tidak tahu cara untuk membuatnya kembali ada,
Apa aku harus meniupnya,
Apa aku harus menyiramnya,
AtauΒ membakarnya.

Tapi satu hal yang pasti.
Membiarkannya diam,
dan merelakannya padam,
akan membawa penyesalan.

Dan api itu masih di sana.

Aku tahu. Aku merasakannya.

Aku hanya ingin percaya.

– 24 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s