Bifurkasi

Hai, bifurkasi.

Kau selalu hadir meski diri mati-matian menjauhi.

Apalagi yang hendak kau tawarkan?

Kita berdua tahu, kau akan terus menawar sampai aku menyerah. Atau lebih tepatnya, merelakan.

Kenapa kau hadir dengan begitu menyakitkan? Tidak adakah cara lain untuk memberiku pelajaran?

Tapi itulah dirimu, kadang membuatku tersindir sekaligus tertawa. Kadang membuatku menangis sekaligus marah. Bifurkasi.

Aku tahu Engkau punya cara tersendiri untuk menyayangiku. Mungkin itu susah untuk kupahami.

Tapi karena itulah, aku tahu itu Dirimu.

Dan itu lebih dari cukup.

Selamat malam.

 

Iklan

2 thoughts on “Bifurkasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s