manusia (#prompt 10 – hell)

prompt-10

Sambil setengah sadar ia menyetir mobilnya ke rumah.

Gelap malam bersanding dengan cahaya bulan yang indah. Jalan raya sedang sepi, hanya ditemani beberapa kendaraan dan lampu lalu lintas yang berkedap-kedip kuning sedari tadi. Meski rasa kantuknya sangat kuat, tapi ia bisa menyetir mobilnya sampai ke rumah. Itulah kekuatan kebiasaan. Sudah tiap hari ia melalui jalan yang sama di waktu yang sama, otaknya sudah bisa menjalankan mobil dengan otomatis.

Writing prompt merupakan sebuah tema / kata kunci / kalimat / ide / gagasan / ‘what-if’ / apapun yang bisa memicu untuk memulai sebuah tulisan.  Di sini saya akan menulis secara refleks maks 20 menit,  dengan prompt ‘neraka’. 

List dan info tentang writing prompt : klik

Sesampainya di rumah, ia langsung ganti baju, dan merebahkan diri di tempat tidur. Tanpa ingin memikirkan apapun. Ia hanya ingin tertidur.

Sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah keluarganya. Ia disibukkan oleh pekerjaannya tiap hari, yaitu menjadi seorang manajer perusahaan. Bahkan kalau boleh jujur, ia sudah lupa nama keponakannya. Ia juga lupa nama satu atau dua sepupunya. Ia tidak tahu apa-apa tentang kabar mereka.

Ya, Roni tidak terlalu peduli dengan keluarganya.

Orang bilang, ada 2 jenis manusia di dunia ini. Yang satu adalah orang yang menganggap dunia ini surga, yang satu lainnya menganggap dunia ini neraka.

Orang yang menganggap dunia ini surga adalah mereka yang selalu bahagia, tidak terlalu memikirkan masalah, semua kebutuhannya tercukupi, jarang sekali merasa jengkel dan sebal. Biasanya mereka memamerkan kebahagiaannya di media sosial. Mereka sering sekali liburan, mereka juga tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak. Biasanya mereka dilahirkan di keluarga kaya, pendidikannya terjamin, sehingga kehidupan mereka juga terjamin.

Orang-orang ini lebih mementingkan kesenangan mereka dan sahabat-sahabatnya. Mereka seringkali tidak ambil pusing dengan kemiskinan di dunia, penyakit yang membunuh anak-anak kecil di afrika, kemiskinan dan kelaparan di pelosok-pelosok dunia. Mereka hanya menikmati dunia, dan mereka bersyukur atas itu. Memikirkan kasus-kasus dan masalah hanya akan membuat otak mereka makin pusing. Dan mereka tidak ingin itu. Mereka tidak mempertanyakan keadilan dunia. Mereka hanya ingin bahagia.

Semua orang ingin bahagia.

Ada juga jenis manusia lainnya, orang yang menganggap dunia ini neraka. Mereka yang kehilangan pekerjaannya, dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka yang sangat kokoh dengan idealismenya, sampai harus kehilangan banyak hal darinya. Mereka yang terus berusaha mengejar cita-cita, tiap hari mati-matian mencoba, tapi hasilnya nihil. Mereka yang hanya bisa sedih karena rumahnya digusur, tempat mencari nafkahnya ditutup, meski mereka tahu itu salah mereka, tapi itu satu-satunya kehidupan mereka.

Mereka yang menggunakan baju yang sama tiap hari, duduk di pinggir jalan meminta uang, dan menunggu ditertibkan oleh petugas keamanan. Mereka yang dipaksa mempelajari sesuatu yang bukan minatnya, dan diolok-olok bodoh oleh gurunya karena tidak bisa mempelajarinya. Mereka yang benci kehidupan, ingin segera dicabut nyawanya, tapi Tuhan tidak menghendakinya. Mereka yang terus-terusan bertanya kapan keadilan datang, tapi dunia tetap bungkam.

Roni tahu betul itu. Roni dulunya adalah manusa jenis kedua, yaitu orang yang menganggap dunia ini neraka. Roni mengutuk hidupnya sendiri, berteriak dan protes, mengapa dunia begitu kejam padanya.

Tapi Roni akhirnya sadar, sekeras apapun ia mengutuk kehidupan, sekeras apapun ia menuntut keadilan, keadilan itu tidak ada. Dunia tidak adil, dan itu adalah fakta. Ia menerimanya. Ia menerima kalau memang selalu ada yang dikorbankan. Dan ia menerima, memang ada beberapa manusia yang beruntung, dan ada yang tidak.

Ia tidak seperti dua jenis manusia di atas. Ia hanya menganggap dunia ini adalah televisi, tabung untuk melihat drama manusia yang ironi. Ada yang bilang usaha berbanding lurus dengan kesuksesan, ada yang bilang kesuksesan hanya untuk mereka yang ditakdirkan. Dan Roni tidak ambil pusing dengan semua ini, ia hanya menontonnya. Menonton manusia-manusia yang baik-buruk dan warna-warni. Roni hanya menjadi pengamat, karena ia tahu memang inilah dunia.

Lalu di tengah tidurnya, ponsel Roni berbunyi. Dengan setengah sadar ia mengangkat telepon itu.

“Halo?”

“Halo? Ini Roni, kan?”

“Iya, saya Roni.”

“Ron, sepupumu baru saja meninggal.”

Roni kaget. Lalu orang itu melanjutkan, “Sepupumu yang anaknya tante Ani,”

Roni kaget, sekaligus bingung. Karena ia tidak tahu siapa yang meninggal, siapa itu tante Ani, dan siapa yang menelponnya.

Ia hanya menjawab, “Innalillahi, sekarang lagi di mana?”

Meski jawaban itu hanya jawaban retorik dan sudah biasa diucapkan.

Itulah manusia.

Iklan

7 thoughts on “manusia (#prompt 10 – hell)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s