Profeta dan Jagad Raya (#prompt 7 – sihir)

prompt-7

Jagad Raya sudah berada di titik kehancurannnya.

Tidak ada lagi yang namanya kedamaian. Tidak ada lagi persahabatan, kepercayaan, teman, dan cinta. Semua makhluk memikirkan dirinya sendiri, berusaha untuk tetap hidup esok hari. Menginjak makhluk lainnya untuk bisa tetap berdiri.

Writing prompt merupakan sebuah tema / kata kunci / kalimat / ide / gagasan / ‘what-if’ / apapun yang bisa memicu untuk memulai sebuah tulisan.  Di sini saya akan menulis secara refleks maks 20 menit,  dengan prompt ‘sihir’. 

List dan info tentang writing prompt : klik

Kekacauan ini disebabkan oleh kumpulan ras Abaddon, makhluk dengan tubuh semacam serigala dengan cakar yang besar, serta otak yang cerdas yang berhasil menuju inti Jagad Raya dan hendak menghancurkannya.

Inti Jagad Raya adalah sebuah kristal bernama “Andriamanitra”. Kristal itu hampir kehabisan energinya untuk memberikan empat pilar kehidupan, yaitu nafas, air, sinar, dan makanan.

Akibatnya, semua makhluk hidup saling membunuh untuk memperoleh 4 pilar yang tersisa di Jagad Raya, saling berebut dari makhluk lainnya.

“Ini, adalah kenyataan sesungguhnya,” kata Ezra, makhluk dengan ras Profeta, satu-satunya ras dengan sayap di Jagad Raya.

“Awalnya kukira semua ras itu berbeda, memiliki tujuan kelahiran masing-masing,” jawab Eran, makhluk dengan ras yang sama dengan Ezra, sambil melihat kehancuran Jagad Raya di depannya.

“Hei, apa kau tidak ingin mencari empat pilar, seperti mereka?”

“Kita tahu, itu sama saja, kan? Sekarang atau nanti, kematian tetap menjemput kita.”

“Tapi kali ini berbeda. Andriamanitra sudah hancur, setelah kematian, tidak akan ada kelahiran yang baru. Ini kiamat.”

“Andriamanitra belum hancur sepenuhnya,” balas Eran, seperti hendak menghindari fakta.

“Tidak ada generasi baru, Eran. Sudah selesai.”

“Bukan kita yang menentukan. Andriamanitra yang menentukannya.”

“Menentukannya? Apakah kau kira ia memiliki kesadaran?”

“Aku harap. Aku harap tatanan Jagad Raya ini memiliki makna, ketika ia lahir bersama kristal Andriamanitra. Aku harap tiap tatanan dan kekacauan, tiap kelahiran dan kematian, dan tiap baik dan jahat memiliki makna yang lebih besar.”

“Bila kristal Andriamanitra punya kesadaran, berarti ia tidak berada di pihak kita.”

“Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?”

“Lihatlah, akhir Jagad Raya ini. Semuanya menjadi sebuah kehancuran. Dan kematiannya membuat semua makhluk menampakkan wujud aslinya, binatang. Mereka membunuh saudaranya, orangtuanya, anaknya, untuk tetap hidup. Persis seperti binatang. Tidak ada nilai luhur lagi, tidak ada niat baik lagi. Dan Andriamanitra-lah yang menuntun kita ke sini.”

“Ia tidak memihak, Ezra.”

“Apa maksudmu?”

“Ia berada di atas segalanya, di atas baik dan jahat. Semua yang Andriamanitra lakukan itu perlu dilakukan, bukan atas kemauannya.”

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti ini?”

“Aku hanya berharap, ada makna dibalik semua ini. Ada makna, mengapa ras kita punya sayap, sedangkan yang lain tidak. Dan mengapa ras bermata satu, Abaddon, adalah ras paling kuat.”

“Bila kau berpikir seperti itu, kau akan sulit untuk bertahan hidup. Memiliki harapan untuk sebuah kristal punya kesadaran adalah omong kosong.”

“Bukankah itu yang membuat kita terus hidup?”

“Apa? Kebohongan?”

“Harapan.”

Ketika sekumpulan ras Abaddon mencabik-cabik kristal Andriamanitra hingga hampir hancur, tiba-tiba kristal itu menyala terang. Sangat terang, hingga membutakan mata mereka, dan membuat mereka terpental jauh. Lalu kristal itu meledak, dan melahirkan sebuah makhluk hidup baru, yang membawa tongkat. Makhluk itu bersinar sangat terang, hingga semua makhluk hidup yang tersisa di Jagad Raya terdiam, dan melihat ke arahnya. Makhluk itu adalah seorang Profeta, tapi tidak bersayap.

Lalu terdengar suara di dalam kepala Eran dan Ezra.

Antar aku ke permukaan.

“Kau benar, Eran,” ucap Ezra, “harapan itu ada.”

Di saat itu mereka berdua tahu untuk apa sayap mereka ada. Mereka berdua terbang ke inti Jagad Raya, dan mengangkat Profeta itu ke permukaan.

Jagad Raya masih memiliki harapan.

 

Note from Affan :

Hore, satu minggu full menulis, dan rutin! 😀
Akhirnya saya mencoba genre fantasi. Karena waktu terdengar kata ‘sihir’, kepikirannya ke fantasi. Ya meskipun nggak ada sihir di ceritanya, hehe, tapi  nggak papa, prompt kan cuma untuk men-trigger menulis, nggak harus tentang itu nulisnya, hehe.

Fyi, Andriamanitra berarti Tuhan, Profeta berarti nabi.  Abaddon berarti Lucifer. Saya ambil dari bahasa mana aja lupa, googling, begitu ketemu langsung tutup tab, langsung saya pakai di cerita :’D

Saya lumayan  suka dengan cerita ini. Nggak fail banget lah menurut saya 🙂

Oh iya, mencoba eksperimen warna berbeda dari tiap dialog yang beda tokoh, gimana jadinya?

Iklan

3 thoughts on “Profeta dan Jagad Raya (#prompt 7 – sihir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s