monster (#prompt 6 – real life)

prompt 6

Tanpa alas kaki, pemuda itu terus berlari.

Wajahnya ketakutan. Rambutnya basah karena keringat, sama juga dengan kaos yang ia kenakan. Ia sendiri tidak tahu sudah berapa lama ia berlari, menuju ke satu pos lalu ke pos lainnya.

“Jangan lari, lihatlah aku,” kata makhluk menyeramkan yang mengejarnya.

Writing prompt merupakan sebuah tema / kata kunci / kalimat / ide / gagasan / ‘what-if’ / apapun yang bisa memicu untuk memulai sebuah tulisan.  Di sini saya akan menulis secara refleks maks 20 menit,  dengan prompt ‘real life’. 

List dan info tentang writing prompt : klik

Pemuda itu tidak mendengarkannya, ia terus berlari. Pos selanjutnya sudah terlihat di depannya. Ia ingin berhenti sejenak di sana, tempat yang tidak bisa disentuh oleh makhluk itu.

Akhirnya ia sampai. Ia mengatur nafasnya, lalu membuka dompetnya, mengeluarkan selembar uang terakhir di sana. Kemudian memberikannya kepada penjaga pos.

“Apa yang kau butuhkan? Permainan? Hiburan? Film? Musik? Makanan? Pakaian? Obat? Bir?” tanya penjaga pos.

“Aku ingin bir,” jawab pemuda itu.

Penjaga bos mengambil sebotol bir dari dalam kulkas, lalu membukanya, dan memberikannya kepada pemuda itu.

“Bir memang bagus untuk melupakan makhluk menyeramkan itu,” kata penjaga pos.

“Ini satu-satunya cara untuk lari darinya,” jawab si pemuda.

“Tadi kulihat uangmu habis ya. Tapi tak perlu khawatir, di pos berikutnya, kau bisa meminjam uang. Ya meskipun, ada bunganya.”

“Bila aku meminjam uang, makhluk itu makin mengejarku, dan ia akan makin menyeramkan,”

“Tapi kau butuh bir kan?”

Pemuda itu tidak menanggapinya, ia terus meminum bir di botolnya. Lalu penjaga pos melanjutkan, “Aku pernah melihat makhluk seperti itu. Hitam. Tapi ada jenis makhluk lain yang mengejar pemuda-pemuda lain.”

Pemuda itu mulai mendengarkan. Kemudian penjaga pos melanjutkan, “Ada yang hijau, ada yang merah, banyak jenisnya.”

“Sebenarnya makhluk apa itu? Kenapa mereka sangat menyeramkan?” tanya si pemuda.

“Ada yang bilang mereka setan. Ada yang bilang mereka Tuhan. Ada yang bilang mereka masa lalu. Ada yang bilang mereka masa depan. Mereka punya banyak nama. Yang pasti, mereka mengejar pemuda sepertimu.”

Pemuda itu diam, mendengarkan. Sampai penjaga pos melanjutkan, “Yang hijau mengejar pemuda yang gila video game dan tidak memikirkan orang tuanya. Yang merah mengejar pemuda yang suka jual-beli wanita. Yang biru mengejar pemuda yang butuh obat untuk tetap normal.”

“Sedangkan yang hitam? Mengejar pemuda yang suka minum bir?”

“Cuma kau yang tahu.”

Tak disangka, bir itu sudah habis. Lalu makhluk menyeramkan itu mulai menghancurkan pos yang ia tempati.

“Kau harus pergi dari sini,” perintah penjaga pos. Lalu pemuda itu keluar, dan kembali berlari.

Makhluk itu menjadi lebih menyeramkan, dan ia berlari makin cepat. Pemuda itu semakin ketakutan. Hatinya tertekan, bertanya kenapa ia harus terus lari, dan sampai kapan kakinya masih kuat.

“Ayah,” terdengar suara seorang anak kecil dari belakang si pemuda. Suara itu tidak terdengar asing di telinga pemuda itu. Ia tahu betul suara itu. Kemudian air mata mengalir dari kedua mata si pemuda.

“TIDAAK!” teriaknya, sambil terus berlari.

“Jangan lari, lihat aku,” ucap monster itu, pelan. Tapi pemuda itu terus berlari, tidak menanggapinya. Dan ia sampai di sebuah pos lain.

“Aku ingin bir!” teriaknya.

“Apa kau punya uang?”

Lalu ia teringat dengan dompetnya yang kosong. Sedangkan makhluk itu sudah berada di depan pos, bersiap menghancurkan pos itu.

Pemuda itu jatuh, menangis keras. Berpikir siapa yang harus ia salahkan atas cobaan ini. Mencari celah dari segala kondisi dan orang di sekitarnya. Tapi ia tahu betul, siapa yang membuat dirinya berlari. Siapa yang bersalah, yang membuat makhluk itu mengejarnya.

Iya. Dirinya sendiri.

“Kau punya putri yang cantik,” kata penjaga pos. “Lihatlah ke belakang.”

Makhluk itu menjelma menjadi seorang gadis kecil yang cantik. Dan ia sedang menangis.

“Jangan tertipu, ia adalah monster!” teriak pemuda itu. “Ia adalah kekhilafanku. Ia adalah dosa-dosaku. Ia adalah …”

“Monstermu. Coba ingat, apa yang sudah kau perbuat.”

Pemuda itu menatap lantai, sambil mengingat-ingat semua dosanya. Ia muda. Ia congkak. Ia ceroboh. Ia melakukan sesuatu yang tabu, yang membuatnya terpaksa harus lari dari kesalahannya sendiri. Lalu ia menangis. Dan kini ia sadar.

Apapun yang ia ambil dari pos ini, hanya akan membuatnya harus berlari lebih kencang. Mungkin ia aman setelah membeli sesuatu dari pos. Tapi itu hanya sejenak. Setelah itu, ia tahu betul, monster itu makin menyeramkan.

“Aku melihat banyak pemuda sepertimu,” kata penjaga pos. “Mereka awalnya membeli bir, obat, narkoba. Tapi ketika sudah hancur sepertimu, mereka membeli ini.”

Penjaga pos itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, meletakkannya di meja. Sebuah pisau. “Mereka menggorok lehernya dengan ini, dan monster itu hilang.”

Pemuda itu gemetaran. Haruskah ia melakukannya, menggorok lehernya sendiri? Supaya monster itu tidak mengejarnya lagi. Ia ketakutan, air mata dan keringat bercucuran deras, sampai tak ada bedanya. Dengan gemetar, ia bertanya, “apa tidak ada cara lain?”

“Ada,” jawab penjaga pos. “Pernah ada seorang pemuda, ia dikejar monster yang sama menakutkannya seperti milikmu. Dan ia berhasil mengalahkannya.”

“Bagaimana? Bagaimana caranya?”

“Monsternya adalah dirinya sendiri. Ia menyatu dengan monsternya, meski itu sangat menyiksa, dan menyakitkan.”

“Bersatu dengan monster? Itu kan yang monster ini inginkan? Itu sama dengan menyerah kan? Kalau kita tidak lagi berlari?”

“Bila kau menggorok lehermu dengan pisau, bukankah itu juga menyerah?” tanya si penjaga pos. “Kau bisa memilih yang mana saja. Dua-duanya sama-sama sangat menyakitkan.”

Lalu pemuda itu menatap monsternya. Ia berdiri dan mendekatinya perlahan. Ia menatap lekat mata milik monster itu. Dan monster itu kembali berubah menyeramkan, dan menerjang si pemuda.

Lalu pemuda itu berteriak. Sangat keras. Tubuhnya kesakitan, dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Matanya berdarah, melihat refleksi putri dan pacarnya sendiri. Mulutnya juga berdarah, karena mengingkari janji-janjinya dulu pada kekasihnya, yang berkata ia akan menikahinya. Telinganya panas, mendengar cercaan orang di sekitar. Badannya tersayat-sayat. Uratnya berhamburan keluar. Jantungnya tertusuk-tusuk. Kuku kaki dan tangannya terkelupas. Dan seluruh tubuhnya terbakar.

Ia menangis, siksaan ini hampir membuatnya kehilangan akal sehat. Tapi ia tetap mencoba fokus kepada suara pelan yang terdengar sayup-sayup di telinganya. Ia fokuskan pikirannya pada suara itu, meski tubuhnya sudah hampir hancur. Suara pelan itu adalah tangisan yang putrinya keluarkan pertama kali saat ia lahir.

Lalu monster itu berubah. Mewujud menjadi putrinya. Merentangkan kedua tangannya.

Tubuh pemuda itu sudah kaku, tapi ia berusaha mendekat pada monster. Ia perlahan merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk monster itu. Putrinya.

Putrinya menangis. Air matanya sangat banyak, hingga membasahi seluruh tubuh si pemuda, mematikan api yang membakarnya. Menyembuhkan luka-luka, dan membersihkan darahnya. Pemuda itu juga ikut menangis.

Mungkin makhluk itu bukan monster. Mungkin kita tidak harus lari darinya. Kita harus menyatu dengannya, monster kita sendiri.

 

Note from Affan :

Akhirnya kembali lagi, dimana nulisnya nggak pakai bensin (alias nggak pernah terpikir dahulu), tapi lumayan memuaskan 🙂
Saya suka yang ini sih, kalau dibandingin sama yang kemarin-kemarin. Nulisnya refleks dan saya lumayan puas. Padahal hari ini ceritanya mau libur dulu ngepromptnya, tapi terlanjur  memulai, terus sudah dapet momentumnya deh, hehe 😀

Dan prompt yang ini terasa agak panjang, coba nanti saya lihat berapa kata. Thanks udah baca, tunggu prompt selanjutnya xD

Iklan

7 thoughts on “monster (#prompt 6 – real life)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s