Penjual Koran

Sempat bingung sih, mau mulai ngepost apa._. Akhirnya saya memutuskan untuk post tentang pengalaman pribadi aja._.

Saat itu, hari Kamis, tanggal 19 September, dimana di hari itu saya dan teman laki-laki-satu-angkatan berkegiatan renang. Renang udah dijadwalin mulai jam 2.00 pm. Tapi karena sebuah kesalahan yang saya buat sendiri, saya nggak jadi renang 😦

Penyesalan pasti ada, tapi bagaimanapun kita harus tetap tenang, dan mencoba apa yang terbaik kita bisa lakukan saat itu. Saat itu saya cuma bisa pulang sih, naik angkot πŸ™‚ Nah waktu mau nunggu angkot, berpapasanlah saya dengan 2 gadis penjual koran.

“Mas mau beli koran?” Tanya salah satu gadis.

“Emm… Koran apa itu dik?” Tanya saya reflek, dan nggak banyak mikir.

“Koran Surya, Mas. Ini juga ada..” Sembari menunjukkan Koran Sindo.

Kupikir, mungkin saatnya aku ajak mereka ngobrol, sekalian mengasah kemampuan berbicaraku, soalnya aku termasuk anak yang susah ngomong, meskipun udah SMA. Toh, mereka juga anak kecil, jadi nggak perlu cemas salah ngomong

“Memangnya kamu buat apa uangnya, Dik?”

“Buat bantu bapak-ibu, Mas”

“Memangnya Bapak-Ibunya nggak kerja?”

“Kerja sih, Mas. Ibuku jualan Es, kalau Ibunya jualan jajan.” Sambil menunjuk temannya.

“Ooh, tapi kalian sekolah kan?”

“Iya,Mas. Ini udah pulang”

“Kamu sama temenmu jual koran, itu disuruh, atau gimana?”

“Ya, aku sih ikut-ikutan, Mas. Sama buat bantu bapak-ibu juga”

Percakapan selama kurang dari 2 menit ini sedikit menggelitikku. Kenapa? Pertama, Ia masih kecil. Tapi sudah bekerja. kedua, Ia bekerja atas inisiatif dan idenya sendiri. Dengan tujuan yang mulia, pula. Jika kubandingkan denganku yang sudah besar, sepertinya aku masih jauh dari mereka. Masih manja, masih suka “minta-minta” pada orangtua. Meskipun orangtua dalam keadaan mampu, tapi adakah inisiatif dari diri sendiri yang membuatku ingin bekerja keras seperti mereka? Mereka masih kecil, kulihat seukuran anak SD, tapi sudah berusaha membantu orangtua. Tidak sepertiku yang malah sering merepotkan orangtua.

“Ya udah dik, Mas beli” Sambil memberikan uang Rp.5000,- . Padahal kutahu harga koran itu hanya Rp.1000,-

Percakapan beberapa menit yang sangat berharga, meskipun hanya pada 2 gadis penjual koran. Melatih kemampuan berbicara, dan menerima pelajaran yang berharga. Rp.5000,- bukanlah nilai yang sebanding dengan apa yang kudapatkan dari mereka. Bagiku, akulah yang memperoleh sesuatu dari mereka.

-Affan-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s